d-eyeview

All Design. One Community.
Welcome to d-eyeview Sign in | Join | Help
in Search

The Death & Life Great American Cities, 1992 Vintage Book Edition.

Last post 04-12-2007, 11:18 PM by Peter YG. 0 replies.
Sort Posts: Previous Next
  •  04-12-2007, 11:18 PM 346

    The Death & Life Great American Cities, 1992 Vintage Book Edition.

    The Death & Life Great American Cities, 1992 Vintage Book Edition, by : Jane Jacobs.  

    Buku ini mengajak pembacanya untuk meninggalkan konsep dan dalil perancangan serta pembangunan kota. Dimulai dari Bab Introduction, Jane Jacobs sudah menuturkan bahwa dari awal bahwa tujuan penulisan buku ini untuk melihat kembali esensi dari perancangan kota. Ia mencoba untuk menawarkan pendekatan lain dan cara memandang kota bagi para arsitek, perencana kota, pengembang, ahli sosiologi, dan politikus. Memulai dengan paragraph yang “ sinis “ tentang berkembangnya kota – kota terutama di Amerika yang berkembang tetapi “ mati “, Jacobs mengetengahkan kehidupan tentang kota yang terbentuk sekarang dengan mempertanyakan kembali apakah perancangan dan pembangunan kota yang telah berlangsung menjadi tempat yang layak tinggal atau malah menjadi ditinggalkan, tidak aman, mati dan membosankan ( hal 4, Introduction ) bagi warga yang tinggal di dalamnya. Kota dengan penghuni – penghuni yang tinggal di dalamnya, dimana interaksi tidak terbentuk akibat perkembangan kota yang timpang tindih menjadi hal yang banyak disoroti pada halaman selanjutnya pada buku ini. Jacobs melihat bahwa kota – kota di Amerika, mulai dari Morningside Heigths, NY hingga North End, Boston, sebagai contoh berhasil atau tidaknya sebuah kota terbentuk, atau mengalami perubahan yang sigbifikan merosot, kumuh, atau malah menjadi semakin berkembang seperti North End yang tadinya kumuh dan tidak aman. Memulai pembahasan dari fungsi jalan sebagai bagian penting perkembangan kota, Jacobs menulis hampir lebih dari 114 halaman yang khusus menyoroti soal jalan. Pengungkapan hal lain dari sudat pandang sosiologi tentang perancangan jalan, tempat tinggal, apartemen, dan gedung yang terbentuk diantara jalan – jalan dalam kota, mampu membuka pandangan baru tentang makna jalan itu sendiri sebagai tempat yang harus aman, terjadinya kontak sosial, hingga terciptanya lingkungan kota ( city neighborhoods ), bukan sekedar elemen transportasi, sirkulasi, dan penghubung antar kegiatan ( linkage ). Ini merupakan upaya untuk menyibak faktor lain yang sering diabaikan perencana kota tentang pentingnya jalan. Jacobs mengklaim bahwa kota yang tidak berhasil adalah kota yang memuliki keterpurukan dan kebuntuan antara ilmu perancangan kota dengan kehidupan nyata pada kota itu sendiri. Kenapa ? Ini menjelaskan bahwa kota dengan jalan yang tidak nyaman dan aman baik untuk orang yang melewatinya dengan berjalan dan berkendaraan, dapat menyebabkan kota itu berubah jadi tempat yang menakutkan untuk tinggal ( bab 1 dan 2 ). Meski itu dicetuskan pada saat buku ini dipublikasikan tahun 1961, dengan berbagai contoh seperti North End, Boston, hal ini terasa tepat dengan kondisi kota Jakarta misalnya. Jalan – jalan di Jakarta jadi tempat yang tidak aman lagi buat orang yang tinggal di dalamnya, pengamen liar, copet di dalam bis, dan kemacetan di sepanjang jalan protokol di Jakarta adalah contoh nyata untuk dipikirkan dan diselesaikan bagi perencana kota dan pengambil kebijakan.
    Jacobs menjelaskan untuk menata kota pertimbangan selain teori perancangan kota, perencana kota harus memperhatikan data lain seperti statistik, perkembangan sosial kultural, untuk mendapatkan hasil yang baik . Pada hal 35 ia mengemukakan 3 hal penting untuk disimak bagaimana kota dapat dibangun menjadi kota tempat tinggal yang berhasil, yaitu dibuatnya batas – batas yang jelas dan tegas antara area publik dan privasi, kemampuan menciptakan suasana dimana orang merasa memiliki kota dan jalannya, dan memberikan tempat berjalan ( sidewalks ) yang aman atau nyaman untuk orang lewat dan orang merasa ikut memiliki dengan  cara memberikan kesempatan orang yang tinggal disekitarnya berinteraksi dengan jalannya. Ini dibangun dengan membuat pemukiman disekitarnya punya akses pandang yang cukup ke jalan sehingga orang dapat bermain, ngobrol santai, sambil mengawasi orang yang lewat. Pemikiran Jacobs ini mungkin dapat dikaji kembali dengan menyesuaikan sistem kampung dan gang yang masih ada di sekitar area Jakarta, dimana jalan lingkungan antara 2 rumah yang berseberangan cukup pendek dan banyak orang dengan santai ngobrol di depannya. Keberagaman fasilitas dalam kota juga dibahas ( bab 13, halaman 244 ) dengan maksud untuk mengajak perencana kota tidak terjebak pada hal yang sama untuk menciptakan elemen penunjang kota. Ini mencegah pengulangan yang belum tentu diperlukan bagi pertumbuhan kota dan penduduk yang tinggal di dalamnya. Contohnya di Eighth Street Greenwich Village, seorang pengembang Charles Abrams membuat teater dan klub kecil yang ternya berhasil kemudian mendorong untuk membuka fasiltas sejenis dan usaha lainnya seperti toko, restaurant, dan lainnya sebagai fasiltas pendukungnya, akhirnya yang timbuk ialah kejenuhan karena hal tersebut sudah tidak istimewa lagi. Jacobs menegaskan bahwa ketika Ebenezer Howard memberi  konsep  Garden City, kebutuhan utama yang dicetuskan dalam pembangunan kota ialah masalah keterkaitan antara jumlah populasi, rumah, dan tempat bekerja. Karena itu dikonsepkan bahwa industri tempat bekerja ada di sekitarnya dengan pemukiman, lengkap dengan fasilitas lainnya ada di tengah – tengahnya. Kaitannya ialah bahwa seringkali fasilitas itu dibangun karena ada kebutuhan akan hal tersebut, tetapi terkadang kebutuhan yang terlalu berlebihan akhirnya menciptakan kekumuhan dalam bentuk baru. Pada akhir buku di bab 4 bagian The Kind of Problem City Is, setelah menyinggung berbagi hal seperti subsidi bagi pemukiman padat atau kumuh hingga perencanaan dan pengaturan kota dalam kota, Jacobs membuat suatu kesimpulan bahwa penting bagi perencana kota untuk berpikir seperti ilmuwan bahwa kota merupakan rangkaian proses, sehingga kita juga harus berpikir secara induktif dengan memulainya dari hal yang kecil dulu, lalu mencoba mengidentifikasi masalah secara detail, mengerti hal yang tersembunyi dan tidak biasa ( unaverage ) sehingga dapat melihat dengan baik apa yang berkembang pada suatu kota untuk kemudian dapat mempelajarinya dan menyelesaikan problem perancangan kota.


    think design !
View as RSS news feed in XML
Powered by Community Server (Personal Edition), by Telligent Systems