Mungkin hampir 2 juta motor bergerak di dalam Jakarta. Sebagai angkutan yg diandalkan karena bisa nyempil sana-sini, motor juga memberi tahu kepada kita perilaku manusia pengendaranya. Kadang tanpa menggunakan lampu, motor dengan mudah menyalip dari belakang. Di zebra cross lampu merah, semua bergerombol tanpa peduli bahaya atau tidak dan siap-siap melaju. Semua numplek saling mendahului, dan tidak perduli dengan yang lain. Belum lagi bila terjadi kemacetan perempatan jalan, motor ada di baris yang peling depan untuk nyerobot masuk. Dengan DP Rp. 300 - 500 ribu rupiah, kita bisa dengan mudah mencicil antara 2 - 4 tahun. Murah dan mudah. Bagi mereka yang menggunakan kendaraan umum hingga 4 kali gonta-ganti, maka motor adalah pilihan jitu. Lihat saja kaum perempuan sudah mulai banyak menggunakannya untuk pergi ke kantor, daripada nebeng pacar, atau pergi sendirian dengan angkutan umum. Bagi pejalan kaki dan pengendara mobil, motor, bajaj, mikrolet, dan metromini adalah musuh di jalan, yang saling berebut ruang kosong, serta memperebutkan koridor jalanan. Pedestrian pun diambil untuk jalan pintas, bersaingan dengan pedagang kaki lima. Ruang bukan lagi titian bidang yang membentuk tembok dan lantai saja, tetapi ruang atas batas teritori kota, dimana jalanan menjadi dimensi lahan perebutan ruang baru atas nama kendaraan umum. Sudah saatnya kita semua memikirkan ulang, apakah kita sudah waras atau memang ruang sudah semakin sempit, termasuk jalanan. Silahkan respon Anda lebih lanjut !
think design !